Thursday, May 24, 2007

Bontang dan komplexnya

Bontang kota kecil yang mungkin gak disemua peta tertera kota ini yang adanya tepat digaris equator.
Keberadaannya cukup penting karena termasuk pabrik gas alam cair yang terbesar didunia, juga pemasok devisa terbesar setelah minyak untuk bumi Indonesia.

Ada 2 komplex besar dikota Bontang ini yakni PT Badak LNG ( komplex dimana kami pernah tinggal) dan komplex PT Pupuk Kaltim. Yang keduanya rasanya mempunyai pegawai hampir sama sekitar 1500 pegawai tetap.
Kami pernah tinggal di komplex perusahaan selama 15 tahun lebih beberapa bulan, di compound yang lumayan lux, juga serba diprovide kantor.
Fasilitas kolam renang ada 3 buah, lapangan golf 18 holes, bowling, lapangan tennis, lapangan badminton indoor, tempat gym, arena senam, lapangan bola, pokoknya segala fasilitas ada. Listrik, air, pelayanan dokter dan rumah sakit gratis dan sekolah anak sampai SMA gratis.....

Lagi jaman jaya2nya sebelum segala sesuatunya jadi bahan omongan, kami masih punya commisarry, juga ruang video dan film, yang filmnya lumayan bagus ( malah saya nonton film Ghost itu di ruang serba gunanya komplex), lalu setiap ada perayaan 17 Agustus selalu ada artis ibukota datang, juga kalau tahun baru pake acara turkey dinner segala, dengan artis2 ibukota.
Yang pernah datang ke Bontang a.l : Niki Astria, Dorce, Mayangsari, Nia Daniati, Coklat ( kalau yang ini sih karena ibunya memang orang komplex kami) dan banyak lagi sampe lupa, eh malah AA Gym, Lutfiah Sungkar aja pernah berceramah ditempat kami.

Tapi sejak jaman reformasi, banyak hal2 yang seharusnya biasa kami nikmati mulai dikurangi karena banyak wartawan2 yang cenderung memojokkan tentang kehidupan didalam komplex kami, jalan2 yang mulus luas, listrik yang terang benderang ( karena memang pabrik LNG tsb bikin listrik sendiri, jadi apa salahnya ?), juga air yang melimpah ruah, karena memang sumur yang ada dalam komplex dibor seperti ngebor minyak dalamnya, jadi dapat sumber air yang katanya gak bakal habis sampai kapanpun.
Semua itu diliput untuk dipojokkan, anehnya.
Sampai hal kecil jadi masalah seperti ketika komplex kami akan dipagar saja, diprotes katanya sok exclusif, padahal maksudnya supaya jelas batas antara komplex perumahan ini dengan kepentingan kota Bontang sendiri, karena belakangan ini juga kota Bontang mulai bebenah.

Juga dengan banyaknya pendatang, yang tadinya Bontang tuh aman tentrem gak ada pengemis mulai tahun2 belakangan ada, yang namanya gak ada tukang parkir belakangan mulai marak tukang parkir. Dan kriminal mulai dikenal dalam dekade terakhir. Jadi karena komplexnya besar, banyak juga pegawai yang mengeluh karena meski dijaga 24 jam tetap aja banyak barang hilang diteras rumah, maka perusahaan berusaha meminimalkan dengan dipagar, eh lho kok diprotes, komplexnya orang kok dia yang ribut.

Pada jaman kami mulai tinggal di Bontang tahun 1989, keadaan masih sangat aman sekali, gak ada pengemis, gak ada tukang parkir, tetapi juga gak ada toko besar, gak ada pasar yang dikelola pemerintah dan jalan2 pun masih seadanya untuk diluar komplex, karena itu perusahaan mengadakan Commissary yang isinya banyak barang import dan juga bahan makanan dari Surabaya.
Makanan import dijual karena dikomplex banyak expat yang tinggal, sedang jalanan yang menghubungkan Bontang dengan kota lainnya yang lebih besar belum terlalu baik, hanya ada pesawat charter itupun harus bergantian dengan sistem seat available. Jadi agar memudahkan mereka ya bahan makanan mereka diprovide ditoko ini.
Juga karena banyaknya expat yang tinggal sampai ada sekalah international untuk anak2 mereka, bahkan komplex sebelahpun ( Pupuk Kaltim) menyekolahkan anaknya ditempat kami.

Untuk masuk ke komplex kami pun disetiap gerbang ada penjagaan yang ketat, para pembantu pun kalau tinggal diluar komplex setiap masuk harus mengenakan badge yang dibuatkan oleh tuannya, juga para tukang kebun, pokoknya gak bisa sembarangan masuk komplex.
Belakang juga jadi omongan koran setempat yang mengatakan sok exclusif, padahal gak ngerti kali kalau pabrik yang ada dalam komplex ini adalah industri strategis sekali, disitulah devisa didapat, kalau ada apa2 gimana ?

Tapi kemudian hal ini bisa dimengerti ketika Ashari kabarnya lari ke Kaltim, waduh yang namanya jalan masuk komplex ketat sekali deh, sampai kita penguni kadang merasa risih juga, tapi ya demi keamanan bersama, apa boleh buat.
Yang disesalkan itu commissary, ketika masih jalan, ada anggota kemasyarakatan menulis artikel koran setempat, katanya dengan adanya toko didalam komplex maka uang orang2 dalam komplex hanya berputar didalam, sedang masyarakat luar gak kebagian perputaran tsb, gak ada pemerataan.

Sebetulnya itu tidak benar karena tetep aja sih ibu2 mah senang belanja juga diluar komplex, kan biasalah ibu2 belanja mah selalu cari dimana aja, tapi itulah jaman mulainya reformasi semua kebablasan....dan artikel tsb di counter oleh segelintir orang untuk memojokkan perusahaan yang akhirnya management memutuskan untuk ditutup.

Mungkin sederhana saja penyelesaiannya ditutup, tapi dibalik itu ada 80 pekerja yang kena PHK.....Nah tokoh masyarakat yang tadinya paling kenceng meneriakkan agar segera ditutup nih commissary, terus mikir gak ya kalau 80 orang yang kena PHK ini keluarganya akan dikasih makan apa ? Uang sekolah anak2nya yang sedang usia sekolah akan dibayar dengan apa ?

Gak habis pikir deh jaman itu, apa yang dilihat gak sesuai dengan hatinya langsung tereak, dan jeleknya dia bayar wartawan untuk menulis dan menjelek2kan perusahaan dikoran mereka....
Aneh sekali.

Gak mikir bahwa pegawai perusahaan itu kebanyakan diambil darikota besar dan biasanya expert2 yang biasa dengan kehidupan nyaman dikota besar, kalau mereka gak diberi fasilitas yang nyaman di hutan begini apa ya ada yang mau kerja dihutan ? Apa gak difikir biar gede pemasukanpun kalau gak ada fasilitas yang memadai untuk keluarga dan anak, jarang para experties mau kerja dihutan gini.....
Apa juga gak pernah compare dengan komplex2 perusahaan lain, nota bene perusahaan migas lainnya ? Kan rata2 ya standarnya seperti ini.

Ada satu lagi yang aneh, kasus lapangan golf, harusnya perusahaan punya 18 holes tapi pada jaman reformasi itu ada segelintir orang yang manas2in penduduk yang masih lugu untuk protes kepada perusahaan karena tanah mereka pada saat itu dibeli dengan harga sangat murah , karena katanya sekarang harga tsb gak worthed dan mereka minta kekurangan dari uang mereka minta dihitung dengan harga saat ini......

Apanya gak aneh, pada saat itu dimana2 ( thn 72) harga tanah diBontang mana ada yang mahal, lha wong daerah jin buang anak gitu, kalau terus kotanya berkembang lalu perusahaan juga jadi perusahaan gas terbesar, harga tanah di Bontang naik pesat, masa iya belinya dulu mintanya harga sekarang ?
Saya 100% gak percaya kalau itu pemikiran masyarakat yang tinggal disebelah komplex, mereka tuh lugu2, gak kepikiran deh nuntut menuntut kayak gitu, pasti ada somebody behind that.
Untung urusan lapangan golf ini akhirnya bisa diselesaikan kalau engga kan yang main golf cuman bisa main sampai ke holes 9 aja.

Tapi yang paling parah (entah saat ini urusan tsb udah selesai apa belum, saya gak jelas lagi ), adalah urusan tanah yang dilewati oleh pipa gas kebetulan milik seseorang yang sudah dibeli oleh perusahaan saat dulu dan kasusnya mirip dengan lapangan golf.
Meskipun pabrik pengolahan gasnya ada dalam komplex tapi sumber gasnya ada dilapangan yang harus dialirkan ke dalam pabrik, jadi si pipa nih melewati tanah ex milik si Pak A, ternyata dia selalu nyatroni tuh pipa dan duduk2 disekitar pipa, kadang membahayakan keamanan pipa karena dia bakar2 ikan disana.

Mula2 masih diperingatkan agar jangan masuk tanah tsb, tapi malah di counter dengan kekerasan, satpam perusahaan malah dipukul, lalu berakhir polisi datang, eh dia malah bawa segerombolan untuk mengacau daerah pipa tsb, dan malah mengancam akan meledakkan pipa tsb....kebayang gak gimana ngerinya ?
Akhirnya menjadi urusan panjang yang jadi berakhir keruang sidang, beberapa kali malah hakimnya yang diancam gerombolan mereka...karena mereka merasa akan kalah, pokoknya betul2 deh perusahaan kena peras dengan ulahnya..... Dari beberapa kali sidang mulai akhirnya tampak bahwa kubu mereka mulai melemah karena dasar2 mereka memang gak kuat, tapi entahlah kelihatannya tetap saja perusahaan harus bayar mereka lagi....
Nah kalau demikian hasilnya bayangkan berapa banyak tanah penduduk yang pada jamannya dibeli perusahaan lalu sekarang kalau semua nuntut mah..repot deh.

Sayang memang pada jaman reformasi mulai, semua kisruh, apa aja salah dan apa aja kena komentar jelek sehingga perusahaan juga bingung dan buntutnya apapun yang sudah lama dinikmati karyawan perusahaan ini harus terpangkas hanya karena ucapan2 segelintir orang yang kurang bertanggung jawab.....

Sampai terakhir kami meninggalkan komplex ini, masih terlihat tertata cantik, masih bisa menutupi banyak hal2 kenyamanan yang dulu kami alami yang sudah tidak ada lagi. Mudah2an komplex yang pernah kami tinggali selama 15 tahun ini masih bisa dinikmati penghuninya walaupun dengan kenyamanan yang sudah banyak berkurang. Sayang kalau sampai terbengkalai seperti nasibnya komplex PT Arun di Aceh.
Kami sebetulnya cinta dengan tempat ini, banyak kenangan manis disini, tapi dunia memang berputar, kami harus melanjutkan rencana kami untuk terus melangkahkan kaki kemana rejeki Allah yang lebih baik sedang menunggu.

Saat ini meski belum menjadi terminal akhir kami tapi tampaknya, kami saat ini sudah mendapatkan apa yang kami inginkan yakni tinggal dikota besar yang aman dan lingkungan Islami yang modern......

Alhamdulillah....

1 Comments:

At 7:44 PM, Anonymous yoan primadisya said...

tante estheerr...
ini yoan, anaknya om imam sulistyo.
apa kabar tante??
kebetulan lagi nyari2 bahan buat ngeblog tentang pt. badak, eh, malah nemu blognya tante esther...hehehe...

 

Post a Comment

<< Home